Kekerasan Pers

Reformasi memang merupakan awal dari semua pembaharuan dan kebebasan di Indonesia. Reformasi seakan menjadi nafas baru dan nyawa baru bagi bangsa ini. Berahirnya Otoriterisme Orba, harapan masa depan demokrasi yang lebih baik dan tercita good government, kesejahteraan rakyat Indonesia, terbebasnya Garuda Pancasila utuk kembali terbang menaungi bangsa ini sampai kebebasan berekspresi dan berpendapat bagi masyarakatm terutama terbebasnya pers dari intervensi pemerintah seperti pada masa Orba.

Kebebasan pers memang sangat penting bagi penciptaan demokrasi dan juga sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah juga penyebaran informasi tanpa ada tekanan dari pihak manapun termasuk pemerintah karena memang sifatnya yang bebas. Dengan pemberian kemerdekaan dan kebebasan kepada pers, pers akan dapat berfungsi sebagai penyalur informasi dari belbagai belahan dunia juga menjadi perantara transparansi dari aktifitas pemerintahan secara objektif.

Sebagaimana fungsi pers yang tercantum dalam pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungi pers ialah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Bagaimana bias fungsi tersebut dapat terlaksana dengan baik apabila tanpa adanya kebebasan yang diberikan terhadap pers.

Meskipun secara legitimasi pers telah mendapatkan kebebasan dalam mencari, mengolah dan menyajian informasi unntuk masyarakat, tetapi dalam kenyataanya masih terdapat banyak tindak kekerasan yang menimpa pihak pers seperti wartawan dan/atau kru ketika bertugas mencari berita maupun set elah memberitakan suatu masalah secara “fulgar”.  Seperti pada era Megawati. Hal itutampak dalam kasus hukum yang menimpa Majalah Tempo. Ketika kantor dan media inidiserbu dan para wartawannya dianiaya massa akibat berita “Ada Tommy di Tanah Abang”. Kekerasan oleh pihak artis beberapa waktu lalu, kemudian kekerasan yang dilakukan TNI AL di Padang saat melakukan penggrebekan terhadap warung remang-remang yang menjadikan wartawan sebagai sasaran pelampiasan kemarahan.

Sebenarnya dari beberapa kasus yang terjadi kepada pers menunjukkan betapa kuatnya pers dengan pemberitaannya. Napoleon pernah mengeluarkan adagium “pena wartawan lebih tajam dari peluru tentara”. Agaknya ini terbukti bagaimana seorang TNI pun sampai harus merasa minder trehadap wartawan dan salah tingkah sampai melakuka tindak kekerasan yang tidak seharusnya. Karena pengaruhnya yang besar pantaslah jika setiap kali pers menyentil bahkan memberitakan pemerintah atau melakukan kntrol social kepada pihak yang juga berkuasa dan berpengaruh pers akan mendapat kecaman, intervensi, terror sampai cerita romantisme pers dan kekerasan yang bersejarah.

Kekuatan pers tidak lagi perlu diragukan. Kritik dan koreksi yang dilakukan pers selama ini selalu menjadi musuh bebuyutan para oknum pemerintahan dan politisi bermasalah di Negri ini. Karena memang itulah fungsi dari pers sendiri, yaitu sebagai kontrol social.  Kekuatan besar pers inilah yang membuat pers sering dicurigai pemerintahan dan menjadi objek intervensi berbagai kalangan bahkan pemerintahan karena pengaruh pers yang begitu besar terhadap masyarakat dan dapat mempermudah kepentingan mereka.

Kebebasan pers disatu sisi memiliki dampak positif yang cukup besar jika didukung dengan moralitas dari pelaku pers sendiri dan menjaga etika profesi sebagai pelaku pers. Tetapi disisi lain pers juga memiliki dampak yang cukup negatif jika kebebasan yang dimiliki tidan dibekali dengan moralitas tinggi. Akan merebaknya pornografi layaknya firus korupsi yang mewabah. Disinilah terlihat profesionalitas dari pelaku pers, sanggupkah mereka menigkatkan prfeisonlitas kerja dengan kebebasan yang dimiliki serta selalu mengupgrade profesionalitas moral dan etika mereka.

Terlepas dari semua itu, kekerasan terhadap siapapun termasuk kepada pers tidaklah dibenarkan adanya karena itu merupakan tindakan pengusikan terhadap hak orang lain dan juga penganiayaan yang tidak beretika. Pers memiliki senjata berupa pena jurnalisme yang tertuang dalam setiap kritik, berita, edukasi yang mereka berikan dan seharusnya apabila ingin melawan pers, bukan tempatnya dengan kekerasan tetapi lawanlah mereka dengan jantan melalui dunia pers juga. Dengan tulisan, kritik kepada redaksi, maupun lewat pengadilan.

Perlukah kekerasan menjadi bentuk dari kebebasan kita berekspresi jika ada cara yang lebih baik dan bermoral yang menunjukkan kualitas sebagai manusia yang tidak hanya punya okol tetapi juga akal, meskipuyn seorang tentara, tetapi tetaplah manusia yag punya pemikiran dan tidak harus selalu dengan kekuatan fisik. Mari kita hargai setiap profesi dan pekerjaan masing-masing individu, dengan begitu tidak aka nada kekerasan dan intervensi karena kita punya tempat dam tugas masing-masing. Biarlah semuanya berjala dengan jalan masing-masing dan merdeka, bebas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: