Wajah Pendidikan

Pelajar, Mahasiswa, dan kaum intelektual selama ini terbukti telah menjadi pilar perubahan di Negri kita tercinta. Mulai dari gerakan Boedi Oetomo, sumpah pemuda yang menyatukan semangat anak bangsa, aktifis mahasiswa yang menggulingkan soekarno, sampai penggerak dan pemrakarsa reformasi menjatuhkan rezim soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, semangat kaum muda yang membara serta idealisme menjadi pondasi kuat para pelajar yang telah memberikan perubahan bagi Negara Indonesia ini.

Peran penting lembaga pendidikan dalam menyiapkan pemuda-pemuda terpelajar tidak bisa diabaikan Terlebih lagi jika kita lihat setelah menangnya reformasi dan soeharto lengser, pemuda kita seakan kehilangan nyawanya sebagai pemuda yang sebenarnya dan tenggelam dalam euforia kebebasan yang mereka dapatkan. Jika kita lihat pelajar kita saat ini mulai dari tingkat SMP,SMA sampai Perguruan Tinggi, mereka terpenjara dalam sikap apatis, hedonis, pragmatis dan konsumtif akibat dari euforia kemenangan reformasi dan merasa cukup dengan kebanggaan mereka sebagai Iron stock, Agent of chance, Agen of control tetapi -seperti halnya oknum pemerintah kita – melupakan tugas dan tanggung jawab dari jabatan mereka tersebut.

Terbukti, pemuda kita ketika saat ini lebih asyik dengan aktifitas-aktifitas di jejaring sosial seperti facebook, twitter dan tidak peduli kepada perkembangan pemerintahan kita yang semakin korup dan mengabaikan kehidupan rakyat kecil. Bagaimana mau memperhatikan pemerintahan dan masa depan bangsa, kalau pelajaran dan pendidikan mereka saja tak dipedulikan dan lebih asyik beribadah update status di fb n twitter. Entah kenapa, pendidikan kita menjadi tak lebih menarik dari jejaring sosial. Karena memang tidak lepas juga dari peran Guru sebagai orang tua di sekolah.

Guru sebagai pendidik dan panutan disekolahpun mulai kehilangan kewibawaanya dengan berbagai kasus yang menimpa Pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sebagaimana banyaknya kasus pelecehan seksual oknum Guru. Seperti kasus seorang Guru BK yang melakukan pelecehan seksual kepada siswinya di salah satu SMA di Surabaya yang muncul di surat kabar, juga banyaknya Guru di bawah Kementrian Agama (Kemenag) yang ditugaskan mengajar di Madrasah tetapi belum bisa –atau kalaupun bias masih sangat rendah kemampuanya- baca tulis Al-Qur’an. Ini cukup menurunkan martabat seorang Guru dan menimbulkan keraguan kepada para orang tua dan siswa sendiri dalam proses belajar mengajar dan bahkan menimbulkan dampak badungnya siswa dan tidak disiplin karena melihat nilai buruk yang ditunjukkan oleh oknum pengajar.  Guru yang harusnya digugu dan ditiru malah memberikan potret yang buruk dan tidak bermoral.

Guru kencing berdiri murid kencing berlari, agaknya pepatah ini terlupakan oleh para Guru kita. Mereka -Guru- yang harusnya memberi tauladan dan jadi panutan bagi siswa kini mulai melupakan tanggung jawabnya dan memberi contoh prilaku yang buruk dan busuk. Jangan salahkan jika banyak beredar video pelajar melakukan hubungan seks wong Gurunya saja mengajarkan hal yang serupa.

Lalu bagaimana nasib masa depan Negara ini jika penerus bangsanya dirusak sendiri dengan pendidikan yang tak bermoral. Sistem pendidikan kita yang menjadi makanan sehari-hari dan jadi dunia bagi pelajar kita memang seharusnya di rekonstruksi, mulai dari pengajar, kurikulum dan sistem pendidikan sendiri. Pantas jika mahasiswa kita apatis karena sejak di bangku SMA saja mereka tidak pernah diajarkan untuk peduli pada masyarakat dan perkembangan bangsa kita dan hanya disibukkan dengan mengejar target angka-angka dan nilai standard kelulusan dan mengabaikan pendidikan karakter serta nilai dari belajar itu sendiri. Saya sendiri sebagai mahasiswa merasakan bagaimana semua pelajaran yang saya pelajari di SMA seakan menghilang bahkan memang sudah tidak bisa saya ingat dengan baik -entah memang saya yang kurang memperhatikan atau apa alasanya- karena kebanyakan Guru mengajar hanya sekadar karena kewajiban dan tugas pekerjaan mereka, bukan lagi karena memang ingin mencerdaskan siswanya.

Jika Guru dulu disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa maka sekarang nilai itu telah luntur karena banyak yang ingin menjadi guru hanya karena pekerjaan itu menghasilkan bagi kesejahteraan mereka. Dan ketika seorang Guru hanya mencari gaji, maka dia tidak akan peduli dengan kondisi siswanya karena dia hanya bekerja. Meskipun tidak semua Guru hanya pragmatis seperti itu.

Kesejahteraan Guru sebagai pengajar dan peracik generasi penerus memang dan harus diperhatikan, tetapi kinerja merekapun harus diawasi dan dikembangkan juga. Untuk kepentingan pengawasan itupun sudah ada Pengawas Sekolah yang mengawasi kinerja Guru, dari mulai mensurvei kegiatan belajar mengajar, mengoreksi berkas-berkas pembelajaran dari mulai Program tahunan sampai RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sebagai bentuk pengawasan dari kinerja guru sebelum mereka berhak mendapat biaya sertifikasi dari pemerintah sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan Guru.

Tetapi dalam praktiknya, banyak terjadi KKN di dalamnya, bagaimana bila seorang guru ingin berkasnya lolos seleksi sertifikasi pengawas maka harus memberikan uang sekian sekian sesuai yang ditentukan pengawas. Saya sempat miris ketika dengan mata kepala saya sendiri pernah menyaksikan praktik suap diinstansi pendidikan seperti ini. “Bagaimana mau bekerja dengan maksimal kalau yang dikejar hanya uang seperti ini, pantas kalau selama ini para pengajar seakan setengah hati dalam mengajar, ternyata sistemnya pun telah mewarisi budaya soeharto” kata hati saya waktu itu,ketika saya dibangku SMA.

Dari pihak instansi pendidikan sendiri baik negri maupun swasta, selama ini bertindak disiplin, tepat waktu, aktif dan tertib administrasi hanya ketika akan ada survei pengawas saja dan proses akreditasi. Selebihnya jika dihari biasa, semua seenaknya sendiri dalam mengajar. Ini lah gambaran mental pendidikan kita yang tidak punya kedisiplinan dan pandangan dimasa depan. Betapa mental korup begitu merata di negara kita ini, bukan hanya pemerintah pusat saja yang dapat korup tetapi seakan telah menjadi budaya.

Pemuda kita adalah penerus bangsa ini, jika pendidikan mereka saja sudah penuh dengan praktik tak bermoral bagaimana negara dan bangsa ini nantinya. Pelecehan seksual, pergaulan bebas, teknologi yang mematikan semangat pemuda, korupsi yang diajarkan dimana-mana adalah masalah kita bersama yang harus kita selesaikan bersama. Kesadaran moral, kesadaran hukum dan kekuatan mental sebagai Indonesia yang beradab, harus kita tumbuhkan dalam diri kita masing-masing. Tidak ada yang bisa merubah dirikita selain kita sendiri dan tidak ada yang dapat merubah masa depan selain kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: