hilangnya nilai indonesia

Reformasi, penggulingan Rezim Orde Baru 1998 merupakan produk sejarah fenomenal yang diukir dengan tinta darah perjuangan bertabur emas oleh rakyat Indonesia, terutama para mahasiswa kala itu. Rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun berhasil dikalahkan oleh para mahasiswa yang ditandai dengan mundurnya Soeharto sebagai Presiden dan diadakan perombakan pemerintahan beserta sistemnya. Sorak sorai rakyat Indonesia menggelegar menyambut Indonesia baru yang diharapkan akan menghidupkan lagi demokrasi, kebebasan bersuara tanpa intervensi, kebijakan yang memang berpihak kepada rakyat dan pastinya terciptanya Good Goverment yang memang melayani rakyat.
Perjuangan yang tak kenal lelah dari mahasiswa merupakan salah satu kunci keberhasilan mewujudkan reformasi pembebasan dari otoriter Rezim Soekarno yang bertamengkan kekuatan militer. Rezim Orba lengser dan Reformasi memberikan harapan baru bagi Indonesia yang lebih baik. Demokrasi disegala bidang, Good Goverment, penegakan hukum, kebebasan berpendapat dan berekspresi. Semua itu yang menjadi tujuan dan orientasi awal dari perjuangan Reformasi.
Kembali disini mental Indonesia diuji untuk kesekian kalinya. Yaitu bagaimana mengolah dan memanage Indonesia setelah perjuangan kemerdekaan dari Rezim didapatkan. Dan kembali terbukti bahwa kita masih menjadi bangsa yang primitif karena hanya kuat ketika beradu otot dan lemah dalam mempertahankan kemenangan dengan management pemerintahan yang baik.
Dahulu setelah perang berahir dan Indonesia merdeka yang ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan kebesaran kita diuji dikancah pemerintahan dan penataan sistem ketatanegaraan. Terbukti Orde Lama dianggap gagal karena terlalu memberi ruang terhadap PKI dan terjadilah pemberontakan Gerakan 30 September atau G30S PKI. Setelah PKI berhasil diberantas habis, Soeharto dengan beralasan pada SUPERSEMAR kemudian melegitimasikan diri sebagai Pemimpin Negara setelah mundurnya Soekarno. Berdirilah Orde Baru dengan program pembangunan yang disumbarkannya tetapipun dianggap gagal meskipun sanggup bertahan selama 32 tahun memeras Negara ini. Otoriter, Intervensi, Kekuasaan yang tak terbatas, Pensakralan UUD’45 dan Pancasila yang tak dijiwai, KKN semua simbol kegagalan Orba dan dengan susah payah dan berlumuran darah karena banyaknya korban yang jatuh karena menentang pemerintah, akhirnya 21 mei 1998 rakyat Indonesia berhasil memenangkan Negara Indonesia untuk yang kesekian kalinya dan menggulingkan Rezim Soekarno.
Reformasi. Hasil dari perjuangan rakyat yang dimotori mahasiswa. Tetapi, sejauh 14 tahun reformasi, belum ada tujuan reformasi yang dapat terwujud selain hanya dalam wacana publik, slogan tak bernyawa dan aturan yang tak punya kuasa. Sepertinya kita memang jagonya adu fisik, dan lemah dalam penataan sistem dan upaya dalam mempertahankan serta memperjuangkan orientasi kemerdekaan seperti halnya reformasi. Terbukti dalam setiap laga krusial perebutan hak dan kemerdekaan kita yang berupa adu kekuatan dan fisik, kita selalu menang (kemerdekaan 1945, pemberan tasan PKI dan orlam, perjuangan melawan Orba) dan dalam penataan pemerintahan, perwujudan tuntutan reformasi, kita selalu gagal dan berujung pada penyalah gunaan kekuasaan baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
Reformasi agaknya juga mendapat nasib yang sama. Demokrasi, kebebasan berpendapat, Good Goverment masih sangat sedikit kita rasakan perwujudan dan dampaknya bagi rakyat. Bagaimana pemerintahan sekarang dijadikan panggung gulat politik bukan untuk memperjuangkan rakyat tetapi memenangkan kepentingan kelompok masing-masing. Korupsi, kolusi, nepotisme yang merupakan target utama yang harus diberantas malah menjadi kebudayaan dan merata di semua sektor pemerintahan dari pusat sampai yang paling kecil di pedesaan.
Mahasiswa yang seharusnya menjadi kontrol dari kinerja pemerintahan sendiri juga semakin kehilangan tajinya. Bahkan mahasiswa sering menjadi tunggangan para politisi dalam setiap aksi dan demonstrasinya. Sikap mahasiswa yang Idealis, Inovatif dan kritis kini semakin menghilang dan terjangkit virus-virus budaya ordebaru yang sepertinya memang diterima sebagai warisan. Bagaimana mahasiswa sendiri dalam pelaksanaan pemerintahan dikampus sendiri melalui BEM atau SENAD sendiri sering melakukan tindakan KKN dan politik hitam dan saling serang antar kelompok,bukan belajar bersimulasi menciptakan sistem pemerintahan yang bersih tetapi sebaliknya belajar menjadi penerus kebejatan pemerintahan.
Dengan budaya dan mental mahasiswa seperti itu jangan kaget kalau nantinya pun Negeri kita ini akan semakin nyaman dijadikan ladang bagi politisi bejat untuk memperkaya diri dan golongan sedang rakyat yang seharusnya dilayani malah harus berkerja keras menjadi budak kepentingan mereka. Jika tetap apatis, hedonis dan materialistis mahasiswa yang seharusnya menjadi Agent of change dan Agent of control akan semakin mudah menjadi tunggangan bagi kepentingan oknum-oknum pemerintahan dan menjadi Agent of Money politic.
Mahasiswa seakan mencapai anti klimaksnya setelah gerakan 1998. Kontan setelah itu peran mahasiswa sebagai Agent of change, Agent of control, iron stock, dfan Avant garde semakin surut bahkan hilang. Kalau pun ada aksi yang dilakukan seperti demonstrasi, itu hanya sekedar menjadi ritual perayaan. Seperti ketika ada peringatan hari buruh, hari Kebangkitan Nasional, mahasiswa berbondong-bondong melakukan demonstrasi tetapi dengan tujuan dan tidak jelas arahnya atau bisa disebut dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Besar Nasional.
Mahasiswa disaat keaktifan, ktitik, inovasi dan idealismenya dibutuhkan oleh bangsa dan Negara ini, malah bermesra-mesra dengan kehidupan mereka yang apatis, hedonis dan matrealitis.
Mahasiswa sebagai pemrakarsa reformasi, seharusnya cepat kembali ke jalur yang benar dan mulai memperjuangkan tanggung jawab reformasi yang dibebankan kepada mereka sebagai kontrol terhadap pemerintah dan juga pemegang bendera estafet perjuangan bangsa. Idealisme mahasiswa haruslah kembali menjadi senjata untuk mendapatkan cita-cita reformasi dan supaya reformasi yang telah diperjuangkan mahasiswa angkatan 98 tidak berakhir sia-sia.
Reformasi jangan setengah hati. Amanat reformasi untuk menciptakan Indonesia yang bebas korupsi, makmur dan adil harus segera kembali diperjuangkan. Bukan dengan adu otot, anarkisme dan perusakan-perusakan, tetapi dengan membangun kembali fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol melalui pengamatan kritis terhadap pemerintah dan ikut aktif mengawasi kebijakan pemerintah agar mengakomodasi kepentingan rakyat bukan kepentingan kelompok tertentu.
Esensi dan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila dan UUD 1945 harus ditegakkan dan menjadi pedoman dalam setiap aktifitas pemerintah agar tujuan reformasi dapat tercipta dan perjuangan yang telah dilakukan untuk Negara Indonesia yang lebih baik dapat tercapai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: