hukum perdata

Cakrawala Tanpa Batas #Lidia

SEJARAH TERBENTUKNYA HUKUM PERDATA (BW)

  1. Sejarah BW berawal di Belanda

Proses terbentuknya Kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW) di Indonesia bersumber dari sejarah KUHPerdata di Belanda. Pada abad pertengahan sistem pemerintahan Belanda masih bercorak desentralisasi, belum menganut sistem pemerintahan yang terpusat atau sentralisasi seperti dianut oleh kebanyakan negara-negara maju. Masing-masing provinsi masih berdaulat penuh sendiri-sendiri atas wilayahnya, dan masing-masing mempunyai peraturan sendiri-sendiri pula.

Oleh sebab itu mudah dimengerti jika pada waktu itu belum ada peraturan yang berlaku umum untuk seluruh wilayah, sehingga akibatnya kepastian hukum atau recht-zekerheid sukar diperoleh. Di daerah atau di provinsi-provinsi itu, variasi hukum sangat beraneka, seperti; hukum Romawi, hukum German, hukum gereja dan peraturan dari provinsi-provinsi itu sendiri (hukum adat).

Pada waktu Nederland masih berbentuk Republik Serikat, keadaan hukum di negeri ini menjadi semakin rumit. Penyebabnya tidak lain karena keragaman hukum yang ada sebagai akibat dari tidak adanya sentralisasi kekuasaan. Di kalangan para ahli hukum di Belanda…

Lihat pos aslinya 1.656 kata lagi

sejarah

patoerroman

Gak..!

aku tak ingin menulis apapun

Sekali lagi ku katakan 

Tidak…!

Apa kau tak mengerti bahasaku kawan?

Tidak untuk saat ini, jariku sedang kelu

Untuk dapat menuliskan kata-kata

 

Tidak….!

Tidak ada apapun yang ingin ku coretkan

Lihatlah kertas putih itu

Indah bukan

Dia bersih, tak bernoda, tak ada kebohongan

 

Lihatlah kawan 

Lihat kertas putih itu, polos

Rasakan kejujuran yang dia berikan

Perhatikan…!

Pernahkah kau rasakan itu?

 

Sebuah kedamaian

Sebuah ketulusan

Pernahkah kau rasakan itu kawan

Hasil dari kejujuran

 

Pernahkah kawan…..

Pernahkah kau lihat kejujuran

Melebihi dari kepolosan itu?

Dia sangat anggun dan berwibawa

Kertas putih kosong polos itu

Lihatlah…..!

 

Kau tahu…

Aku tak ingin menulis apapun

aku tak dapat melihat apapun

kau tahu?

kawan…

Kepalaku, fikiranku, otakku

Seperti halnya kertas putih kosong itu

Polos dan bersih kawan…!

Lihat pos aslinya

Gak..!aku tak i…

Gak..!

aku tak ingin menulis apapun

Sekali lagi ku katakan 

Tidak…!

Apa kau tak mengerti bahasaku kawan?

Tidak untuk saat ini, jariku sedang kelu

Untuk dapat menuliskan kata-kata

 

Tidak….!

Tidak ada apapun yang ingin ku coretkan

Lihatlah kertas putih itu

Indah bukan

Dia bersih, tak bernoda, tak ada kebohongan

 

Lihatlah kawan 

Lihat kertas putih itu, polos

Rasakan kejujuran yang dia berikan

Perhatikan…!

Pernahkah kau rasakan itu?

 

Sebuah kedamaian

Sebuah ketulusan

Pernahkah kau rasakan itu kawan

Hasil dari kejujuran

 

Pernahkah kawan…..

Pernahkah kau lihat kejujuran

Melebihi dari kepolosan itu?

Dia sangat anggun dan berwibawa

Kertas putih kosong polos itu

Lihatlah…..!

 

Kau tahu…

Aku tak ingin menulis apapun

aku tak dapat melihat apapun

kau tahu?

kawan…

Kepalaku, fikiranku, otakku

Seperti halnya kertas putih kosong itu

Polos dan bersih kawan…!

Generasi Emas 2045

Setiap tanggal 2 Mei, seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Pendidkan Nasional (Hardiknas). Tanggal 2 Mei yang merupakan tanggal lahir Ki Hajaar Dewantara ditetapkan sebagai Hardiknas untuk memperingati jasa Ki Hajardewantara yang telah meperjuangkan pendidikan bagi rakyat Indonesia, baik melalui lembaga pendidikan yang telah beliau dirikan (Taman Siswa  1922) disaat seluruh masyarakat masih belum menyadari akan pentingnya pendidikan  ketika beliau di angkat sebagai Mentri Pengajaran pertama ketika Indonesia Merdeka.

Tahun ini pun, terjadi peringatan Hardiknas di seluruh penjuru Nusantara sebagaimana biasa,  tetapi ada yang berbeda pada peringatan Hardiknas 2 Mei 2012 tahun ini. Pasalnya momentum kali ini dijadikan sebagai ajang me-launching program baru pemerintah untuk mencetak Generasi Emas 2045 yang diproyeksikan akan menjadi hadiah bagi 100 tahun kemerdekaan Indonesia. “Tahun ini kami canangkan sebagai masa ‘menanam’ generasi emas tersebut. Dari 2012-2035, Indonesia mendapat bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif paling tinggi di antara usia anak-anak dan orang tua”. Sebagaimana sambutan yang disampaikan Mendikbud Muhammad Nuh saat peringatan Hardiknas (http://www.mediaindonesia.com).

Bonus demografi yang diungkapkan ole M. Nuh adalah kondisi populasi masyarakat dimana jumlah penduduk usia muda lebih bayak dibandingkan dengan penduduk usia tua. Kondisi yang disebut sebagai Bonus Demografi ini akan berlangsung antara tahun 2012 – 2035. Dari data yang diperoleh Badan Pusat Statistik 2011 bahwa jumlah anak usia 0-9 tahun mencapai 45,93 juta, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Mereka inilah anak-anak kader Generasi Emas 2045, karena nantinya pada 2045 mereka yang berusia 0-9 tahun akan berusia 35-45 tahun dan yang berusia 10-19 tahun akan berusia 45-54 tahun. Dan memang orang-orang usia ini lah yang nantinya akan menjadi pemegang pemerintahan dan roda kehidupan di Indonesia.

M. Nuh memiliki harapan besar kepada anak-anak generasi kita sekarang ini untuk bisa benar-benar menjadi generasi emas dan membawa kemajuan serta kejayaan bagi Indonesia tepat pada satu abad kemerdekaan Indonesia. Tetapi mampukah dan bisakah semua harapan dan program itu tercapai? Karena Bonus Demografi juga bisa berbalik menjadi Bencana Demografi jika tanpa pengawasan dan penanganan yang sungguh-sungguh dan berkala dari pemerintah.

Untuk itu pemerintah juga telah menyiapkan Grand Design demi mewujudkan cita-cita Bangkitnya Generasi Emas nantinya pada 2045. Diantara Grand Design yang dicanangkan adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan usia dini digencarkan dengan PAUD-isasi, peningkatan kualitas PAUD dan pendidikan dasar yang berkualitas dan merata.
  2. Rehabilitasi gedung-gedung sekolah yang sudah tak layak pakai dan pembangunan gedung-gedung sekolah secara besar-besaran.
  3.  Intervensi peningkatan angka partisipasi kasar (APK) untuk SMA dan atau sederajat dengan tarjet sebesaar 97% tahun 2020. Yang diperkirakan  jika tanpa intervensi baru akan mencapai 97% tahun 2040.
  4. Peningkatan APK perguruan tinggi dengan meningkatkan akses, keterjangkauan dan ketesediaan.

Kemudian dari berbagai program di atas diharapkan akan terbentuknya output yang berupa generasi cerdas komperhensif, yaitu produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul.

Dalam Grand Design yang telah disiapkan kelompok anak usia 0-9 tahun menjadi target yang lebih diutamakan karena selain mereka belum terlalu terpengaruh oleh pergaulan bebas dan hama-hama, Usia dini merupakan masa keemasan (the golden age) seorang anak. Fase tersebut juga menjadi periode yang sangat penting dalam perkembangan fisik dan mental seorang manusia.

Selain Kemendikbud, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) juga akan meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai salah satu langkah turut melakukan investasi menanam Generasi Emas 2045. “Sehingga, pada 2045, saat peringatan ulang tahun Indonesia yang ke-100, terciptalah generasi muda yang kamil dan paripurna,” Ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dirjen PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi.

PAUDNI akan memberikan beberapa bantuan untuk merealisasikan peningkatan mutu pendidikan PAUD diantaranya dengan memberikan bantuan rintisan, alat permainan edukasi, dan serangkaian program yang telah disiapkan. Tumbuh kembang anak pada usia dini akan sangat menentukan kualitas kecerdasan, kesehatan, dan kematangan emosional di masa mendatang, oleh karena itu anak usia dini ini harus dipenuhi kebutuhan gizinya. Bukan hanya dari makanan dan suplemen tetapi juga dari pendidikan yang dapat mereka peroleh.

Sedangakan disektor pendidkan perguruan tinggi, untuk menyiapkan generasi emas 2045, Dikti telah menyiapkan program Beasiswa Unggulan. Beasiswa Unggulan ini merupakan program yang disiapkan oleh Dikti bagi para mahasiswa dan calon mahasiswa yang memiliki keunggulan dalam bidang akademik. Konsep Unggul disini dijelaskan yaitu ‘Unggul yang berarti unggul untuk penerima beasiswanya, bidang studinya dan proses pembelajarannya.’ Karakter penerima Beasiswa Unggulan ini adalah kesadaran sebagai makhluk Tuhan, adanya kedahagaan menimba dan menulis Ilmu Pengetahuan dan kecintaan serta kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia.

Dalam program ini, penerima beasisiwa selain unggul dalam bidang akademik juga berada dalam bidang studi yang memiliki grade tinggi atau unggulan, memiliki karakter dan bergaya hidup sehat dan harus memiliki fighting spirit yang tinggi dalam belajar.

Ada tiga persyaratan utama yang harus dimiliki oleh penerima beasisiwa unggulan ini; pertama, para penerima Beasiswa Unggulan dianjurkan untuk mempunyai IPK min 3.00, dan tanpa cuti. Kedua, penerima Beasiswa Unggulan wajib membuat ISR (Intelectual Social Responsibility) yaitu artikel mengenai Beasiswa Unggulan yang nantinya akan di publikasikan, dan ketiga, tidak mengkonsumsi narkoba, serta tidak melanggar Peraturan Undang-Undang Negara Republik Indonesia.

Program beasiswa Unggulan ini merupakan salah satu bentuk penyiapan generasi yang kompeten dalam intelektualitas dan memiliki daya belajar yang tinggi. Selain selektif dan ketat dalam pengawasannya, beasisiwa unggulan uga memberikan bantuan berupa biaya hidup bagi penerima beasiswa unggulan yang memang terbukti kurang mampu setelah adanya pengajuan dari si penerima dan dilakukan survey ke rumah si penerima beasiswa.

Dari semua program yang telah disiapkan dan dijalankan merupakan langkah awal yang dilakukan pemerintah untuk investasi menanam Generasi Emas 2045. Jika melihat track pendidikan kita sejauh ini, memang masih perlu adanya berbagai tindakan dari pemerintah dan juga masyarakat untuk mewujudkan terciptanya generasi ini. Selain memperbaiki sistem pendidikan dan kuaitas pendidik dan kependidikan kita yang awur-awuran dan hanya mementingkan nilai sebagai tolok ukur keberhasilan belajar juga menjaga para kaum muda dan pelajar kita dari pengaruh pergaulan bebas, narkoba, seks bebas yang mulai marak menimpa pelajar mulai dari tingkat SMP sampai perguruan tinggi kita dewasa ini.

Bagaimanapun juga tercipta atau tidaknya, berhasil atau tidaknya Generasi Emas ini merupakan tanggung jawab kita bersama, dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pengawasan pendidikan sampai masyarakat, pemuda, pelajar sebagai pelaksana dan target dari program ini untuk ikut andil mensukseskan program ini dan memperbaiki kualitas hidup masing-masing.

hilangnya nilai indonesia

Reformasi, penggulingan Rezim Orde Baru 1998 merupakan produk sejarah fenomenal yang diukir dengan tinta darah perjuangan bertabur emas oleh rakyat Indonesia, terutama para mahasiswa kala itu. Rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun berhasil dikalahkan oleh para mahasiswa yang ditandai dengan mundurnya Soeharto sebagai Presiden dan diadakan perombakan pemerintahan beserta sistemnya. Sorak sorai rakyat Indonesia menggelegar menyambut Indonesia baru yang diharapkan akan menghidupkan lagi demokrasi, kebebasan bersuara tanpa intervensi, kebijakan yang memang berpihak kepada rakyat dan pastinya terciptanya Good Goverment yang memang melayani rakyat.
Perjuangan yang tak kenal lelah dari mahasiswa merupakan salah satu kunci keberhasilan mewujudkan reformasi pembebasan dari otoriter Rezim Soekarno yang bertamengkan kekuatan militer. Rezim Orba lengser dan Reformasi memberikan harapan baru bagi Indonesia yang lebih baik. Demokrasi disegala bidang, Good Goverment, penegakan hukum, kebebasan berpendapat dan berekspresi. Semua itu yang menjadi tujuan dan orientasi awal dari perjuangan Reformasi.
Kembali disini mental Indonesia diuji untuk kesekian kalinya. Yaitu bagaimana mengolah dan memanage Indonesia setelah perjuangan kemerdekaan dari Rezim didapatkan. Dan kembali terbukti bahwa kita masih menjadi bangsa yang primitif karena hanya kuat ketika beradu otot dan lemah dalam mempertahankan kemenangan dengan management pemerintahan yang baik.
Dahulu setelah perang berahir dan Indonesia merdeka yang ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan kebesaran kita diuji dikancah pemerintahan dan penataan sistem ketatanegaraan. Terbukti Orde Lama dianggap gagal karena terlalu memberi ruang terhadap PKI dan terjadilah pemberontakan Gerakan 30 September atau G30S PKI. Setelah PKI berhasil diberantas habis, Soeharto dengan beralasan pada SUPERSEMAR kemudian melegitimasikan diri sebagai Pemimpin Negara setelah mundurnya Soekarno. Berdirilah Orde Baru dengan program pembangunan yang disumbarkannya tetapipun dianggap gagal meskipun sanggup bertahan selama 32 tahun memeras Negara ini. Otoriter, Intervensi, Kekuasaan yang tak terbatas, Pensakralan UUD’45 dan Pancasila yang tak dijiwai, KKN semua simbol kegagalan Orba dan dengan susah payah dan berlumuran darah karena banyaknya korban yang jatuh karena menentang pemerintah, akhirnya 21 mei 1998 rakyat Indonesia berhasil memenangkan Negara Indonesia untuk yang kesekian kalinya dan menggulingkan Rezim Soekarno.
Reformasi. Hasil dari perjuangan rakyat yang dimotori mahasiswa. Tetapi, sejauh 14 tahun reformasi, belum ada tujuan reformasi yang dapat terwujud selain hanya dalam wacana publik, slogan tak bernyawa dan aturan yang tak punya kuasa. Sepertinya kita memang jagonya adu fisik, dan lemah dalam penataan sistem dan upaya dalam mempertahankan serta memperjuangkan orientasi kemerdekaan seperti halnya reformasi. Terbukti dalam setiap laga krusial perebutan hak dan kemerdekaan kita yang berupa adu kekuatan dan fisik, kita selalu menang (kemerdekaan 1945, pemberan tasan PKI dan orlam, perjuangan melawan Orba) dan dalam penataan pemerintahan, perwujudan tuntutan reformasi, kita selalu gagal dan berujung pada penyalah gunaan kekuasaan baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
Reformasi agaknya juga mendapat nasib yang sama. Demokrasi, kebebasan berpendapat, Good Goverment masih sangat sedikit kita rasakan perwujudan dan dampaknya bagi rakyat. Bagaimana pemerintahan sekarang dijadikan panggung gulat politik bukan untuk memperjuangkan rakyat tetapi memenangkan kepentingan kelompok masing-masing. Korupsi, kolusi, nepotisme yang merupakan target utama yang harus diberantas malah menjadi kebudayaan dan merata di semua sektor pemerintahan dari pusat sampai yang paling kecil di pedesaan.
Mahasiswa yang seharusnya menjadi kontrol dari kinerja pemerintahan sendiri juga semakin kehilangan tajinya. Bahkan mahasiswa sering menjadi tunggangan para politisi dalam setiap aksi dan demonstrasinya. Sikap mahasiswa yang Idealis, Inovatif dan kritis kini semakin menghilang dan terjangkit virus-virus budaya ordebaru yang sepertinya memang diterima sebagai warisan. Bagaimana mahasiswa sendiri dalam pelaksanaan pemerintahan dikampus sendiri melalui BEM atau SENAD sendiri sering melakukan tindakan KKN dan politik hitam dan saling serang antar kelompok,bukan belajar bersimulasi menciptakan sistem pemerintahan yang bersih tetapi sebaliknya belajar menjadi penerus kebejatan pemerintahan.
Dengan budaya dan mental mahasiswa seperti itu jangan kaget kalau nantinya pun Negeri kita ini akan semakin nyaman dijadikan ladang bagi politisi bejat untuk memperkaya diri dan golongan sedang rakyat yang seharusnya dilayani malah harus berkerja keras menjadi budak kepentingan mereka. Jika tetap apatis, hedonis dan materialistis mahasiswa yang seharusnya menjadi Agent of change dan Agent of control akan semakin mudah menjadi tunggangan bagi kepentingan oknum-oknum pemerintahan dan menjadi Agent of Money politic.
Mahasiswa seakan mencapai anti klimaksnya setelah gerakan 1998. Kontan setelah itu peran mahasiswa sebagai Agent of change, Agent of control, iron stock, dfan Avant garde semakin surut bahkan hilang. Kalau pun ada aksi yang dilakukan seperti demonstrasi, itu hanya sekedar menjadi ritual perayaan. Seperti ketika ada peringatan hari buruh, hari Kebangkitan Nasional, mahasiswa berbondong-bondong melakukan demonstrasi tetapi dengan tujuan dan tidak jelas arahnya atau bisa disebut dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Besar Nasional.
Mahasiswa disaat keaktifan, ktitik, inovasi dan idealismenya dibutuhkan oleh bangsa dan Negara ini, malah bermesra-mesra dengan kehidupan mereka yang apatis, hedonis dan matrealitis.
Mahasiswa sebagai pemrakarsa reformasi, seharusnya cepat kembali ke jalur yang benar dan mulai memperjuangkan tanggung jawab reformasi yang dibebankan kepada mereka sebagai kontrol terhadap pemerintah dan juga pemegang bendera estafet perjuangan bangsa. Idealisme mahasiswa haruslah kembali menjadi senjata untuk mendapatkan cita-cita reformasi dan supaya reformasi yang telah diperjuangkan mahasiswa angkatan 98 tidak berakhir sia-sia.
Reformasi jangan setengah hati. Amanat reformasi untuk menciptakan Indonesia yang bebas korupsi, makmur dan adil harus segera kembali diperjuangkan. Bukan dengan adu otot, anarkisme dan perusakan-perusakan, tetapi dengan membangun kembali fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol melalui pengamatan kritis terhadap pemerintah dan ikut aktif mengawasi kebijakan pemerintah agar mengakomodasi kepentingan rakyat bukan kepentingan kelompok tertentu.
Esensi dan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila dan UUD 1945 harus ditegakkan dan menjadi pedoman dalam setiap aktifitas pemerintah agar tujuan reformasi dapat tercipta dan perjuangan yang telah dilakukan untuk Negara Indonesia yang lebih baik dapat tercapai.

pemuda sebagai masa depan

Pelajar, Mahasiswa, dan kaum intelektual selama ini terbukti telah menjadi pilar perubahan di Negri kita tercinta. Mulai dari gerakan Boedi Oetomo, sumpah pemuda yang menyatukan semangat anak bangsa, aktifis mahasiswa yang menggulingkan soekarno, sampai penggerak dan pemrakarsa reformasi menjatuhkan rezim soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, semangat kaum muda yang membara serta idealisme menjadi pondasi kuat para pelajar yang telah memberikan perubahan bagi Negara Indonesia ini.
Peran penting lembaga pendidikan dalam menyiapkan pemuda-pemuda terpelajar tidak bisa diabaikan Terlebih lagi jika kita lihat setelah menangnya reformasi dan soeharto lengser, pemuda kita seakan kehilangan nyawanya sebagai pemuda yang sebenarnya dan tenggelam dalam euforia kebebasan yang mereka dapatkan. Jika kita lihat pelajar kita saat ini mulai dari tingkat SMP,SMA sampai Perguruan Tinggi, mereka terpenjara dalam sikap apatis, hedonis, pragmatis dan konsumtif akibat dari euforia kemenangan reformasi dan merasa cukup dengan kebanggaan mereka sebagai Iron stock, Agent of chance, Agen of control tetapi -seperti halnya oknum pemerintah kita – melupakan tugas dan tanggung jawab dari jabatan mereka tersebut.
Terbukti, pemuda kita ketika saat ini lebih asyik dengan aktifitas-aktifitas di jejaring sosial seperti facebook, twitter dan tidak peduli kepada perkembangan pemerintahan kita yang semakin korup dan mengabaikan kehidupan rakyat kecil. Bagaimana mau memperhatikan pemerintahan dan masa depan bangsa, kalau pelajaran dan pendidikan mereka saja tak dipedulikan dan lebih asyik beribadah update status di fb n twitter. Entah kenapa, pendidikan kita menjadi tak lebih menarik dari jejaring sosial. Karena memang tidak lepas juga dari peran Guru sebagai orang tua di sekolah. Guru sebagai pendidik dan panutan disekolahpun mulai kehilangan kewibawaanya dengan berbagai kasus yang menimpa Pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sebagaimana banyaknya kasus pelecehan seksual oknum Guru seperti kasus seorang Guru BK yang melakukan pelecehan seksual kepada siswinya di salah satu SMA di surabaya. Guru yang harusnya digugu dan ditiru malah memberikan potret yang buruk dan tidak bermoral.
Guru kencing berdiri murid kencing berlari, agaknya pepatah ini terlupakan oleh para Guru kita. Mereka -Guru- yang harusnya memberi tauladan dan jadi panutan bagi siswa kini mulai melupakan tanggung jawabnya dan memberi contoh prilaku yang buruk dan busuk. Jangan salahkan jika banyak beredar video pelajar melakukan hubungan seks wong Gurunya saja mengajarkan hal yang serupa.
Lalu bagaimana nasib masa depan Negara ini jika penerus bangsanya dirusak sendiri dengan pendidikan yang tak bermoral. Sistem pendidikan kita yang menjadi makanan sehari-hari dan jadi dunia bagi pelajar kita memang seharusnya di rekonstruksi, mulai dari pengajar, kurikulum dan sistem pendidikan sendiri. Pantas jika mahasiswa kita apatis karena sejak di bangku SMA saja mereka tidak pernah diajarkan untuk peduli pada masyarakat dan perkembangan bangsa kita dan hanya disibukkan dengan mengejar target angka-angka dan nilai standard kelulusan dan mengabaikan pendidikan karakter serta nilai dari belajar itu sendiri. Saya sendiri sebagai mahasiswa merasakan bagaimana semua pelajaran yang saya pelajari di SMA seakan menghilang bahkan memang sudah tidak bisa saya ingat dengan baik -entah memang saya yang kurang memperhatikan atau apa alasanya- karena kebanyakan Guru mengajar hanya sekadar karena kewajiban dan tugas pekerjaan mereka, bukan lagi karena memang ingin mencerdaskan siswanya. Jika Guru dulu disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa maka sekarang nilai itu telah luntur karena banyak yang ingin menjadi guru hanya karena pekerjaan itu menghasilkan bagi kesejahteraan mereka. Dan ketika seorang Guru hanya mencari gaji, maka dia tidak akan peduli dengan kondisi siswanya karena dia hanya bekerja. Meskipun tidak semua Guru hanya pragmatis seperti itu.
Kesejahteraan Guru sebagai pengajar dan peracik generasi penerus memang dan harus diperhatikan, tetapi kinerja merekapun harus diawasi dan dikembangkan juga. Untuk kepentingan pengawasan itupun sudah ada Pengawas Sekolah yang mengawasi kinerja Guru, dari mulai mensurvei kegiatan belajar mengajar, mengoreksi berkas-berkas pembelajaran dari mulai Program tahunan sampai RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sebagai bentuk pengawasan dari kinerja guru sebelum mereka berhak mendapat biaya sertifikasi dari pemerintah sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan Guru.
Tetapi dalam praktiknya, banyak terjadi KKN di dalamnya, bagaimana bila seorang guru ingin berkasnya lolos seleksi sertifikasi pengawas maka harus memberikan uang sekian sekian sesuai yang ditentukan pengawas. Saya sempat miris ketika dengan mata kepala saya sendiri pernah menyaksikan praktik suap diinstansi pendidikan seperti ini. “Bagaimana mau bekerja dengan maksimal kalau yang dikejar hanya uang seperti ini, pantas kalau selama ini para pengajar seakan setengah hati dalam mengajar, ternyata sistemnya pun telah mewarisi budaya soeharto” kata hati saya waktu itu,ketika saya dibangku SMA.
Dari pihak instansi pendidikan sendiri baik negri maupun swasta, selama ini bertindak disiplin, tepat waktu, aktif dan tertib administrasi hanya ketika akan ada survei pengawas saja dan proses akreditasi. Selebihnya jika dihari biasa, semua seenaknya sendiri dalam mengajar. Ini lah gambaran mental pendidikan kita yang tidak punya kedisiplinan dan pandangan dimasa depan. Betapa mental korup begitu merata di negara kita ini, bukan hanya pemerintah pusat saja yang dapat korup tetapi seakan telah menjadi budaya.
Pemuda kita adalah penerus bangsa ini, jika pendidikan mereka saja sudah penuh dengan praktik tak bermoral bagaimana negara dan bangsa ini nantinya. Pelecehan seksual, pergaulan bebas, teknologi yang mematikan semangat pemuda, korupsi yang diajarkan dimana-mana adalah masalah kita bersama yang harus kita selesaikan bersama. Kesadaran moral, kesadaran hukum dan kekuatan mental sebagai Indonesia yang beradab, harus kita tumbuhkan dalam diri kita masing-masing. Tidak ada yang bisa merubah dirikita selain kita sendiri dan tidak ada yang dapat merubah masa depan selain kita sendiri.

makalah fenomenologi edmund husserl

BAB I.

PENDAHULUAN

 

Kata fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat karena berkecakupan. Dalam bahasa indonesia biasa dipakai istilah gejala. Secara istilah, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri.[1]

Seorang Fenomenolog suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenolog bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung. Fenomenologi adalah suatu metode pemikiran, “a way of looking at things”.

Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa fenomenologi ini mengacu kepada analisis kehidupan sehari-hari dari sudut pandang orang yang terlibat di dalamnya. Tradisi ini memberi penekanan yang besar pada persepsi dan interpretasi orang mengenai pengalaman mereka sendiri. Fenomenologi melihat komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman personal melalui dialog atau percakapan. Bagi seorang fenomenolog, kisah seorang individu adalah lebih penting dan bermakna daripada hipotesis ataupun aksioma. Seorang penganut fenomenologi cenderung menentang segala sesuatu yang tidak dapat diamati. Fenomenologi juga cenderung menentang naturalisme (biasa juga disebut objektivisme atau positivisme). Hal demikian dikarenakan Fenomenolog cenderung yakin bahwa suatu bukti atau fakta dapat diperoleh tidak hanya dari dunia kultur dan natural, tetapi juga ideal, semisal angka, atau bahkan kesadaran hidup.[2]

Jelasnya, fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai “hal itu sendiri” lepas dari segala presuposisi. Langkah pertamanya adalah menghindari semua konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus mengarahkan pengalaman. Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan kebudayaan, semuanya harus dihindari sebisa mungkin. Semua penjelasan tidak boleh dipaksakan sebelum pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam pengalaman itu sendiri.[3] Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun—apakah itu tradisi metafisika, epistimologi, atau sains. Program utama fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan. Selain itu, fenomenologi juga menolak klaim representasionalisme epistimologi modern. Dengan demikian, fenomenologi yang dipromosikan Husserl ini dapat disebut sebagai ilmu tanpa presuposisi. Hal ini jelas bertolak belakang dengan modus filsafat sejak Hegel menafikan kemungkinannya ilmu pengetahuan tanpa presuposisi, dimana presuposisi yang menghantui filsafat selama ini adalah naturalisme dan psikologisme.[4]

Dalam perkembangannya, munculnya filsafat fenomenologi telah memberikan pengaruh yang sangat luas, dimana hampir semua disiplin keilmuan mendapatkan inspirasi dari fenomenologi. Psikologi, sosiologi, antropologi, arsitektur sampai penelitian tentang agama semuanya memperoleh nafas baru dengan munculnya fenomenologi.

 

 

BAB II.

PEMBAHASAN

 

Edmund Gustav Albrecht Husserl dilahirkan pada tanggal 8 April 1859 di Prostějov, Moravia, Ceko (yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Austria). Ia adalah seorang filsuf Jerman yang dikenal sebagai bapak fenomenologi. Karyanya meninggalkan orientasi yang murni positivis dalam sains dan filsafat pada masanya, dan mengutamakan pengalaman subyektif sebagai sumber dari semua pengetahuan kita tentang fenomena obyektif. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Yahudi di Prostějov (Prossnitz). 

Husserl adalah murid Franz Brentano dan Carl Stumpf; karya filsafatnya mempengaruhi, antara lain, Edith Stein (St. Teresa Benedicta dari Salib), Eugen Fink, Max Scheler, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Emmanuel Lévinas, Rudolf Carnap, Hermann Weyl, Maurice Merleau-Ponty, dan Roman Ingarden. Pada tahun 1886 dia mempelajari psikologi dan banyak menulis tentang fenomenologi. Tahun 1887 Husserl berpindah agama menjadi Kristen dan bergabung dengan Gereja Lutheran.

Ia mengajar filsafat di Halle sebagai seorang tutor (Privatdozent) dari tahun 1887, lalu di Göttingen sebagai profesor dari 1901, dan di Freiburg im Breisgau dari 1916 hingga ia pensiun pada 1928. Setelah itu, ia melanjutkan penelitiannya dan menulis dengan menggunakan perpustakaan di Freiburg, hingga kemudian dilarang menggunakannya – karena ia keturunan Yahudi – yang saat itu dipimpin oleh rektor, dan sebagian karena pengaruh dari bekas muridnya, yang juga anak emasnya, Martin Heidegger.[5] Husserl meninggal dunia di Freiburg pada tanggal 27 April 1938 dalam usia 79 tahun akibat penyakit pneumonia.[6]

Sementara itu dalam penelurusan Bernet dan kawan-kawannya dalam bukunya: “An Introduction to Husserlian Phenomenology” dapat ditemukan keseluruhan karya Edmund Husserl, dan dipilahnya dengan kategorisasi yang rinci, seperti terlihat dalam tabel berikut ini:

A. Mundane Phänomenologie

 

A. Mundane Phenomenology

 

I. Logik und formale Ontologie
(41 Konvolute)

   

I. Logic and Formal Ontology
(41 bundles of manuscripts)

 

II. Formale Ethik, Rechtsphilosophie (1)

   

II. Formal Ethics, Philosophy of Law (1)

 

III. Ontologie (Eidetik und ihre Methodologie) (13)

   

III. Ontology (Eidetics and its methodology) (13)

 

IV. Wissenschaftslehre (22)

   

IV. Theory of science (22)

 

V. Intentionale Anthropologie (Person und Umwelt) (26)

   

V. Intentional Anthropology (Person and Surrounding-World) (26)

 

VI. Psychologie (Lehre von der Intentionalität) (36)

   

VI. Psychology (Doctrine of Intentionality)(36)

 

VII. Theorie der Weltapperzeption (31)

   

VII. Theory of World Apperception (31)

         

B. Die Reduktion

 

B. The Reduction

 

I. Wege zur Reduktion
(38 Konvolute)

   

I. Paths to the reduction
(38 bundles of manuscripts)

 

II. Die Reduktion selbst und ihre Methodologie (23)

   

II.The Reduction itself and its Methodology (23)

 

III. Vorläufige transzendentale Intentionalanalytik (12)

   

III.Preliminary Transcendental Intentional Analysis (12)

 

IV. Historische und systematische Selbstcharakteristik der Phänomenologie (12)

   

IV.Historical and Systematic Self-characterization of Phenomenology (12)

         

C. Zeitkonstitution als formale Konstitution
(17 Konvolute)

 

C. Time-Constitution as Formal Constitution
(17 bundles of manuscripts)

         

D.Primordiale Konstitution (“Urkonstitution“)
(18 Konvolute)

 

D. Primordial Constitution (“Urkonstitution“)
(18 Bundles of manuscripts)

         

E. Intersubjektive Konstitution

 

E. Intersubjective Constitution

 

I. Konstitutive Elementarlehre der unmittelbaren Fremderfahrung
(7 Konvolute)

   

I. Constitutional Basic Doctrine of the Immediate Experience of the Other
(7 bundles of manuscripts)

 

II. Konstitution der mittelbaren Frederfahrung (die volle Sozialität) (3)

   

II. Constitution of the Mediate Experience of the Other (Full Sociality) (3)

 

III. Transzendetale Anthroplogie (transzendentale Theologie, usw.) (11)

   

III. Transcendental Anthropology (Transcendental Theology, etc.) (11)

         

F. Vorlesungen und Vorträge

 

F. Lecture Courses and Public Lectures

 

I. Vorlesungen und Teile aus Vorlesungen
(44 Konvolute)

   

I. Lecture Courses and Parts from Lectures
(44 bundles of manuscripts)

 

II. Vorträge mit Beilagen (7)

   

II. Public Lectures with Appendices (7)

 

III. Manuskripte der gedruckten Abhandlungen mit späteren Beilagen (1)

   

III. Manuscripts of Published Treatises with Later Appendices (1)

 

IV. Lose Blätter (4)

   

IV. Loose Sheets (4)

         

K. Autographe, in der kritischen Sichtung von 1935 nicht aufgenommen

 

K. Autographs, not Included in the Critical Inventory of 1935

 

I. Manuskripte vor 1910
(69 Konvolute)

   

I. Manuscripts earlier than 1910
(69 bundles of manuscripts)

 

II. Manuskripte von 1910-1930 (5)

   

II. Manuscripts from 1910-1930 (5)

 

III. Manuskripte nach 1930-zur Krisisproblematik (34)

   

III. Manuscripts later than 1930-to the problems of Krisis (34)

 

IX.-X. Abschriften von Randbemerkungen Husserl in den Büchern seiner Bibliothek

   

IX-X. Copies of Husserl’s Marginal Notes in Books of his Library

         

L. Bernauer Maunskripte

 

L. The Bernau Manuscripts

 

I. (21 Konvolute)

   

I. (21 bundles of manuscripts)

         
 

II. (21 Konvolute)

   

II. (21 bundles of manuscripts)

         

M. Abschriften von Manuskripten Husserls in Kurrentschrift bzw. Machinenschrift, vor 1938 von Husserls Assistenten in Freiburg ausgeführt

 

M. Copies of Husserl’s Manuscripts in Running Hand or Typescript, Carried Out by Husserl’s Assistants Earlier than 1938

 

I. Vorlesungen
(4 Konvolute)

   

I. Lecture Courses
(4 bundles of manuscripts)

 

II. Vorträge (3)

   

II. Public Lectures (3)

 

III. Entwürfe für Publikationen (17)

   

III. Sketches for Publications (17)

         

N. Nachschriften

 

N. Transcriptions

         

P. Manuskripte anderer Autoren

 

P. Manuscripts by Other Authors

         

Q. Notizen Husserls in den Vorlesungen seiner Lehrer

 

Q. Husserl’s Notes from Lecture Courses by His Teachers

         

R. Briefe

 

R. Letters

 

I. Briefe von Husserl

   

I. Letters by Husserl

 

II. Briefe an Husserl

   

II. Letters to Husserl

 

III. Brief über Husserl

   

III. Letters about Husserl

 

IV. Briefe Malvine Husserls (nach 1938)

   

III. Letters by Malvine Husserl (after 1938)

         

X. Archivaria

 

X. Archival Material[7]

 

Fenomenologi Husserl

Sebagai studi filsafat, fenomenologi dikembangkan di Universitas-universitas Jerman sebelum Perang Dunia I, khususnya oleh Edmund Husserl; kemudian dilanjutkan oleh Martin Heidegger, Max Scheler dan yang lainnya. Bahkan Jean-Paul Sartre pun memasukkan fenomenologi dalam eksistensialisme-nya.[8]

Istilah “Fenomenologi” pertama kali digunakan oleh J. H. Lambert (1728 – 1777). Kemudian istilah itu juga digunakan oleh Immanuel Kant, Hegel serta sejumlah filosof lain. Namun semuanya mengartikan istilah fenomenologi secara berbeda. Baru Edmund Husserl yang memakai istilah fenomenologi secara khusus dengan menunjukkan metode berpikir secara tepat.[9] Contoh misalnya, dalam  karya Hegel yang berjudul “Phenomenolgy of Spirit”. Pemaknaan Hegel terhadap teori “fenomena” dalam buku ini berbeda dengan “fenomena” menurut Husserl. Menurut Hegel, “fenomena” yang kita alami dan tampak pada kita merupakan hasil kegiatan yang bermacam-macam dan runtutan konsep kesadaran manusia serta bersifat relatif terhadap budaya dan sejarah. Husserl menolak pandangan Hegel mengenai relativisme fenomena budaya dan sejarah, namun dia menerima konsep formal fenomenologi Hegel serta menjadikannya prinsip dasar untuk perkembangan semua tipe fenomenologi: fenomenologi  pengalaman adalah apa yang dihasilkan oleh kegiatan dan susunan kesadaran kita.

Menurut Husserl, fenomena adalah realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan subyek dengan realitas, karena realitas itu sendiri yang tampak bagi subyek. Dengan pandangan seperti ini, Husserl mencoba mengadakan semacam revolusi dalam filsafat Barat. Hal demikian dikarenakan sejak Descartes, kesadaran selalu dipahami sebagai kesadaran tertutup (cogito tertutup), artinya kesadaran mengenal diri sendiri dan hanya melalui jalan itu dapat mengenal realitas. Sebaliknya Husserl berpendapat bahwa kesadaran terarah pada realitas, dimana kesadaran bersifat “intensional”, yakni realitas yang menampakkan diri.

Sebagai seorang ahli fenomenologi, Husserl mencoba menunjukkan bahwa melalui metode fenomenologi mengenai pengarungan pengalaman biasa menuju pengalaman murni, kita bisa mengetahui kepastian absolut dengan susunan penting aksi-aksi sadar kita, seperti berpikir dan mengingat, dan pada sisi lain, susunan penting obyek-obyek merupakan tujuan  aksi-aksi tersebut. Dengan demikian filsafat akan menjadi sebuah “ilmu setepat-tepatnya” dan pada akhirnya kepastian akan diraih.

Lebih jauh lagi Husserl berpendapat bahwa ada  kebenaran untuk semua orang dan manusia dapat mencapainya. Dan untuk menemukan kebenaran ini, seseorang harus kembali kepada “realitas” sendiri. Dalam bentuk slogan, Husserl menyatakan Zuruck zu den sachen selbst” — kembali kepada benda-benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek memiliki hakekat, dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala-gejala yang kita terima.  Kalau kita mengambil jarak dari obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan-pandangan lain, dan gejala-gejala itu kita cermati, maka obyek itu ”berbicara” sendiri mengenai hakekatnya, dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita.

Namun demikian, yang perlu dipahami adalah bahwa benda, realitas, ataupun obyek tidaklah secara langsung memperlihatkan hakekatnya sendiri. Apa yang kita temui pada “benda-benda” itu dalam pemikiran biasa bukanlah hakekat. Hakekat benda itu ada di balik yang kelihatan itu. Karena pemikiran pertama (first look) tidak membuka tabir yang menutupi hakekat, maka diperlukan pemikiran kedua (second look). Alat yang digunakan untuk menemukan pada pemikiran kedua ini adalah intuisi dalam menemukan hakekat, yang disebut dengan wesenchau, melihat (secara intuitif) hakekat gejala-gejala.

Dalam melihat hakekat dengan intuisi ini, Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi, yakni penundaan segala pengetahuan yang ada tentang obyek sebelum pengamatan itu dilakukan[10]. Reduksi ini juga dapat diartikan sebagai penyaringan atau pengecilan. Reduksi ini merupakan salah satu prinsip dasar sikap fenomenologis, dimana untuk mengetahui sesuatu, seorang fenomenolog bersikap netral dengan tidak menggunakan teori-teori atau pengertian-pengertian yang telah ada sehingga obyek diberi kesempatan untuk “berbicara tentang dirinya sendiri”.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa fenomena dipandang dari dua sudut. Pertama, fenomena selalu “menunjuk ke luar” atau berhubungan dengan realitas di luar pikiran. Kedua, fenomena dari sudut kesadaran Kita, karena selalu berada dalam kesadaran Kita. Maka dalam memandang fenomena harus terlebih dahulu melihat “penyaringan” (ratio), sehingga mendapatkan kesadaran yang murni. Fenomenologi menghendaki ilmu pengetahuan secara sadar mengarahkan untuk memperhatikan contoh tertentu tanpa prasangka teoritis lewat pengalaman-pengalaman yang berbeda dan bukan  lewat koleksi data yang besar untuk suatu teori umum di luar substansi sesungguhnya.[11]

Fenomenologi adalah ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelasi kesadaran, Pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar esensi-esensi tersebut tetap pada kemurniannya, karena sesungguhmya Fenomenologi menghendaki ilmu pengetahuan secara sadar mengarahkan untuk memperhatikan contoh tertentu tanpa prasangka teoritis lewat pengalaman-pengalaman yang berbeda dan bukan lewat koleksi data yang besar untuk suatu teori umum di luar substansi sesungguhnya, dan tanpa terkontaminasi kecenderungan psikologisme dan naturalisme. Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Tanpa penundaan asumsi naturalisme dan psikolgisme, Kita akan terjebak pada dikotomi (subyek-obyek yang menyesatkan atau bertentangan satu sama lain).

Contohnya, saat mengambil gelas, Kita tidak memikirkan secara teoritis (tinggi, berat, dan lebar) melainkan menghayatinya sebagai wadah penampung air untuk diminum. Ini yang hilang dari pengalaman Kita kalau Kita menganut asumsi naturalisme. Dan ini yang kembali dimunculkan oleh Husserl. Akar filosofis fenomenologi Husserl ialah dari pemikiran gurunya, Franz Brentano. Dari Brentano-lah Husserl mengambil konsep filsafat sebagai ilmu yang rigoris (sikap pikiran di mana dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan atau bersikeras mempertahankan pandangan yang sempit dan ketat). Sebagaimana juga bahwa filsafat terdiri atas deskripsi dan bukan penjelasan kausal. Karena baginya fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat tetapi juga sebagai metode, karena dalam fenomenologi Kita memperoleh langkah-langkah dalam menuju suatu fenomena yang murni.[12]

Menurut Husserl “prinsip segala prinsip” ialah bahwa hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan pengantara apapun juga) dapat dipakai sebagai kriteria terakhir dibidang Filsafat. Hanya saja apa yang secara langsung diberikan kepada Kita dalam pengalaman dapat dianggap benar “sejauh diberikan”. Dari situ Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran harus menjadi dasar filsafat. Alasannya ialah bahwa hanya kesadaran yang diberikan secara langsung kepada Kita sebagai subjek.

Fenomen” merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang memisahkan realitas dari Kita .Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat intensionalitas, karena intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran. Dan justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas, fenomen harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri.

Maka sebagai hasil dari metode fenomenologi Husserl ialah perhatian baru untuk intensionalitas kesadaran. Kesadaran Kita tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya ada kesadaran, diandalkan tiga hal, yaitu bahwa ada suatu subyek yang terbuka untuk obyek-obyek yang ada. Fakta bahwa kesadaran selalu terarah kepada obyek-obyek disebut intensionalitas, Kiranya tidak tepat mengatakan bahwa kesadaran mempunyai “intensionalitas”, karena kesadaran itu justru adalah intensionalitas itu sendiri. Entah Kita sungguh-sungguh melihat suatu pemandangan itu atau tidak, tetapi bila Kita masih menyadari perbedaan antara kedua kemungkinan ini maka Kita tetap menyadari sesuatu. Kesadaran tidak pernah pasif. Karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu. Kesadaran itu bukan berarti suatu cermin atau foto. Kesadaran itu suatu tindakan. Artinya terdapat interaksi antara tindakan kesadaran dengan obyek kesadaran. Namun interaksi ini tidak boleh dianggap sebagai kerjasama antara dua unsur yang sama penting. Karena akhirnya, hanya ada kesadaran, obyek yang disadari itu hanyalah suatu ciptaan kesadaran.[13]

Pengalaman subyek harus selalu dipandang sebagai pengalaman yang terlibat secara aktif dengan dunia. Kesadaran tidak tertutup dari dunia, tetapi selalu menuju, mengarah dan membuka pada dunia. Oleh karena itu Kita tidak boleh memikirkan pengalaman dalam kesadaran manusia seperti obyek “dalam kardus”.

Pengalaman bukanlah sebuah “celah” yang mana, dunia hadir terpisah darinya, menerobos masuk. Itu tidak sama halnya dengan menarik sesuatu yang asing ke dalam kesadaran. Pengalaman adalah pagelaran, yang mana bagi Kita, sosok yang mengalami. Wujud yang dialami ‘ada di sana’ dan di sana sebagaimana adanya dengan seluruh muatannya dan modus berada di mana pengalaman sendiri, Lewat intensionalitas, yang melekatkannya.

Ada beberapa aspek yang penting dalam intensionalitas Husserl, yakni:

  1. Lewat intensionalitas terjadi objektivikasi. Artinya bahwa unsur-unsur dalam arus kesadaran menunjuk kepada suatu objek, terhimpun pada suatu objek tertentu.
  2. Lewat intensionalitas terjadilah identifikasi. Hal ini merupakan akibat objektivikasi tadi, dalam arti bahwa berbagai data yang tampil pada peristiwa-peristiwa kemudian masih pula dapat dihimpun pada objek sebagai hasil objektivikasi tersebut.
  3. Intensionalitas juga saling menghubungkan segi-segi suatu objek dengan segi-segi yang mendampinginya.
  4. Intensionalitas mengadakan pula konstitusi.

“Konstitusi” merupakan proses munculnya fenomen-fenomen kepada kesadaran. Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran. Karena terdapat korelasi antara kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan konstitusi adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Tidak ada kebenaran pada dirinya yang lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses penampakkan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi kesadaran intensional.[14]

Sebagai contoh dari konstitusi:  “Kita melihat suatu gelas, tetapi sebenarnya yang Kita lihat merupakan suatu perspektif dari gelas tersebut, Kita melihat gelas itu dari depan, belakang, kanan, kiri, atas, dan seterusnya”. Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa semua perspektif itu. Dalam prespektif objek telah dikonstitusi. Pada akhirnya Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realita. Suatu fenomen tidak pernah merupakan sesuatu yang statis, arti suatu fenomen tergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi umat manusia, maupun bagi keseluruhan sejarah umat manusia. Sejarah Kita selalu hadir dalam cara Kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi dalam filsafat Husserl selalu diartikan sebagai “konstitusi genetis”. Proses yang mengakibatkan suatu fenomen menjadi nyata dalam kesadaran, adalah merupakan suatu aspek historis.[15]

Dalam melihat hakekat dengan intuisi ini, Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi, yakni penundaan segala pengetahuan yang ada tentang obyek sebelum pengamatan itu dilakukan. Reduksi ini juga dapat diartikan sebagai penyaringan atau pengecilan. Reduksi ini merupakan salah satu prinsip dasar sikap fenomenologis, dimana untuk mengetahui sesuatu, seorang fenomenolog bersikap netral dengan tidak menggunakan teori-teori atau pengertian-pengertian yang telah ada sehingga obyek diberi kesempatan untuk “berbicara tentang dirinya sendiri”.

Istilah lain yang digunakan oleh Husserl adalah epoche, yang artinya melupakan pengertian-pengertian tentang obyek untuk sementara dan berusaha melihat obyek secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya.

Menurut husserl, benda-benada tidaklah secara langsung memperlihatkan hakikat dirinya. Apa yang Kita temui pada benda-benda itu dalam pemikiran biasa bukanlah hakikat. Hakikat benda itu ada dibalik yang kelihatan itu. Karena pemikiran pertama (first look) tidak membuka tabir yang menutupi hakikat, maka diperlukan pemikiran kedua (second look). Alat yang digunakan untuk menemukan hakikat pada pemikiran kedua ini adalah intuisi. Dalam usaha untuk melihat hakikat dengan intuisi, Husserl memperkenalkan pendekatan Reduksi, yaitu penundaan segala ilmu pengetahuan yang ada tentang objek, sebelum pengamatan intuitif dilakukan.

Reduksi juga dapat diartikan penyaringan atau pengecilan. Istilah lain yang digunakan Husserl adalah epoche yang artinya sebagai penempatan sesuatu di antara dua kurung (metode bracketing). Maksudnya adalah melupakan pengertian-pengertian tentang objek untuk sementara, dan berusaha melihat objek secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya. Dengan kata lain reduksi berarti kembali pada dunia pengalaman. Pengalaman adalah tanah dari mana dapat tumbuh segala makna dan kebenaran.  Ada 3 macam reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomen dalam pendekatan fenomenologi itu, yaitu Reduksi Fenomenologis, Reduksi Eidetis, dan Reduksi Fenomenologi Transedental.[16]

  1. Reduksi Fenomenologis.

Menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif[17]. Sikap Kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus “diajak bicara”. Walaupun demikian, fenomen itu memang merupakan data, sebab sama sekali tidak disangkal eksistensinya, hanya tidak diperhatikan. Namun obyek yang diteliti hanya yang sejauh Kita sadari.

Hal yang dilakukan oleh Husserl dalam Reduksi Fenomenologis ini adalah:

  1. Dengan “mengurung” atau bracketing yaitu meminggirkan keyakinan Kita akan totalitas obyek-obyek dan segala hal yang Kita terlibat dengannya dari pendirian alamiah ataupun bahkan pengalaman Kita tentangnya.
  2. Menjelaskan struktur dari apa yang tetap ada setelah dilakukan “pengurungan”.
  3. Reduksi Eidetis.[18]

Adalah menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki dan diperoleh dari sumber lain. Maksud reduksi ini ingin menemukan eidos (intisari), atau sampai kepada wesen-nya (hakikat). Karena itu, reduksi ini juga disebut wesenchau, artinya di sini, Kita melihat hakikat sesuatu. Hakikat yang dimaksud Husserl bukan dalam arti umum, misalnya, “manusia adalah hakikatnya dapat mati”, bukan suatu inti yang tersembunyi, misalnya, “hakikat hidup”, bukan pula hakikat seperti yang dimaksud Aristoteles, seperti, “manusia adalah binatang yang berakal”. Hakikat yang dimaksud Husserl adalah struktur dasariah, yang meliputi isi fundamental, ditambah semua sifat hakiki, lalu ditambah pula semua relasi hakiki dengan kesadaran serta objek lain yang disadari. Tujuan sebenarnya dari reduksi adalah untuk mengungkap struktur dasar (esensi, eidos, atau hakikat) dari suatu fenomena (gejala) murni atau yang telah dimurnikan. Oleh karena itu, dalam reduksi eidetis yang harus dilakukan adalah jangan dulu mempertimbangkan atau mengindahkan apa yang sifatnya aksidental atau eksistensial. Dan caranya adalah dengan “menunda dalam tanda kurung”. Dengan reduksi eidetis ini, dimana dalam khayalan semua perbedaan-perbedaan dari sejumlah item dihilangkan sehingga tinggal suatu esensi saja.

  1. Reduksi Fenomenologis Transedental.[19]

Adalah dengan menyingkirkan seluruh reduksi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain harus untuk sementara dilupakan. Kalau reduksi-reduksi ini berhasil, maka gejala tersebut dapat memperlihatkan diri menjadi fenomen. Dalam reduksi yang ketiga ini sudah bukan lagi mengenai objek atau fenomen, tetapi khusus pengarahan intensionalitas ke subjek mengenai akar-akar kesadaran, yakni mengenai kesadaran sendiri yang bersifat transedental. Fenomenologi harus menganalisis dan menggambarkan cara berjalannya kesadaran transedental.

Fenomenologi Max Scheler

Disamping Husserl, filsuf lain yang juga terlibat dalam filsafat fenomenologi adalah Max Scheler. Scheler juga menggunakan metode Husserl dan tidak berusaha untuk menganalisa dan menerangkan lebih jauh tentang suatu obyek dan gejala-gejalanya. Bagi Scheler, fenomenologi merupakan “jalan keluar” ketidakpuasannya atas logisisme-transendentalis Immanuel Kant dan Psikologisme Empiris. Dan pemikiran yang paling utama Scheler adalah tentang fenomenologi etika.

Dalam pandangan Scheler tentang fenomenologi etis, benda dianggap sebagai “sesuatu” yang bernilai; oleh karena itu, adalah keliru menginginkan inti nilai dari benda-benda, atau memandang keduanya dengan tempat berpijak yang sama. Dunia benda-benda terdiri atas segala sesuatu, maka dapat dihancurkan oleh kekuatan alam dan sejarah. Dan jika nilai moral kehendak kita tergantung pada benda-benda, maka kehancuran tersebut akan mempengaruhinya. Sebaliknya benda itu memiliki nilai empiris, induktif, dan prinsip yang didasarkan diatasnya bersifat relatif.[20]

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana sebuah prinsip yang universal dan pasti dapat diturunkan dari realitas yang berubah, yang tidak stabil? Jika etika benda-benda diterima, prinsip-prinsip moral akan tertinggal di belakang evolusi sejarah, dan, kata Scheler, adalah tidak mungkin untuk mengkritik dunia benda-benda yang ada pada satu jaman tertentu, karena etika pasti didasarkan pada benda-benda tersebut.

Juga salah, bahwa setiap prinsip etis yang berusaha untuk menetapkan tujuan yang berkaitan dengan nilai moral dari hasrat yang terukur. Sebab tujuan, sebagaimana adanya, tidak pernah baik ataupun buruk, sebab benda-benda itu bebas dari nilai yang harus direalisasikan. Dengan model pemikiran seperti ini, maka menurut Scheler, perilaku yang baik dan yang buruk  tidak dapat diukur dengan menghubungkannya dengan tujuan karena konsep tentang baik dan buruk tidak dapat disarikan dari isi empiris tujuan.. Jelasnya, Scheler ingin mengatakan bahwa nilai itu berasal dari benda-benda, namun tidak tergantung pada mereka. Dan dari ketidaktergantungan tersebut memungkinkan benda itu untuk “menyusun” sebuah etika aksiologis yang sekaligus material dan a priori.[21]

Lebih jelasnya lagi, Scheler mengilustrasikannya dengan membandingkan “nilai” dengan “warna” untuk menunjukkan bahwa didalam kasus keduanya terdapat persoalan tentang kualitas yang keberadaannya tidak tergantung pada benda. Scheler mengatakan bahwa “merah” sebagai kualitas murni dalam spektrum, tanpa mengalami perlunya untuk mengkonsepsikannya sebagai yang meliputi permukaan yang berbadan.

Dengan cara yang sama, “nilai” yang terkandung didalam benda serta pembentukan atas suatu “kebaikan” tidak tergantung pada benda tersebut. Menurut Scheler, kita tidak memahami, misalnya nilai kenikmatan atau estetik melalui induksi yang umum. Dalam kasus tertentu, satu obyek atau perbuatan tunggal cukup memadai bagi kita untuk menangkap nilai yang terkandung didalamnya. Sebaliknya, kehadiran nilai yang menyertai obyek yang bernilai memiliki hakekat “baik”. Dengan cara ini, kita tidak memeras keindahan dari benda yang indah; karena keindahan mendahului bendanya.[22] Dan bila dikaitkan dengan perbuatan manusia, maka menurut Scheler, manusia bukanlah pencipta nilai tingkah laku karena nilai-nilai itu berada diluar diri manusia. Lebih lanjut Scheler mengatakan bahwa tugas manusia adalah mengakui nilai-nilai itu serta mengikutinya dalam hidup[23]

 

 

BAB III.

PENUTUP

Dari pemaparan di atas dapat kami simpulkan bahwa ciri khas pemikiran Fenomenologi Husserl tentang bagaimana semestinya menemukan kebenaran dalam filsafat terangkai dalam satu kalimat “Nach den sachen selbst” (kembalilah kepada benda-benda itu sendiri).

Bagaimana pun jua kami sangat sadar bahwa karya ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan kritikan dan masukan agar kedepan dapat menjadi lebih baik lagi. Dan semoga apa yang kami berikan dapat menjadi manfaat bagi pembaca.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bertens, K., Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman, Jakarta: Gramedia, 1981.

Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 1980.

http://banyubeningku.blogspot.com/2011/04/filsafat-fenomenologi-edmund-husserl.html

http://www.slideshare.net/mazizaacrizal/fenomenologi-3572675

http://indonesiakomplit.wordpress.com/2011/01/28/fenomenologi-edmund-husserl/

http://ruangmerindukandiadandia.wordpress.com/2010/02/14/fenomenologi-edmund-husserl/

Adian, Donny Gahral, Pilar-Pilar Filsafat Kontemporer. Jogjakarta : Jalasutra, 2002

Frondizi, Risieri, Pengantar Filsafat Nilai, Cuk Ananta Wijaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001

Poedjwijatna, I.R., Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: Rineka Cipta, Cet. X, 1997

Drijarkara, N. SJ., Percikan Filsafat, Jakarta: PT Pembangunan, 1981

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996.

Bagus, Lorens, “Edmund Husserl: Kembali pada Benda-benda Itu Sendiri”, Para Filosof Penentu Gerak Zaman . Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Delfgaauw, Bernard, Filsafat Abad 20, terj. Soejono Soemargono, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1988.

Bernet, Rudolf, Iso Kern, and Eduard Marbach.. An Introduction to Husserlian Phenomenology. Evanston, Ill.: Northwestern University Press,1993.

 


[1] K. Bertens, , Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman (Jakarta: Gramedia, 1981) h. 109

[3] Doni Gahral Adian, Pilar Pilar Filasafat Kontemporer, Jogjakarta: Jala Sutra, 2002, h. 21

[4] Ibid h. 23

[6] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Jerman, (Jakarta: PT. Gramedia, Anggota IKAPI, 1981), h. 98.

[7] Bernet, Rudolf; Kern, Iso; and Marbach, Eduard. Introduction to Husserlian Phenomenology. (Evanston, IL: Northwestern University Press, 1993), h. 246-47.

[10] K. Bertens, , Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman (Jakarta: Gramedia, 1981) H. 90

[11] Bernard Delfgaauw, Filsafat Abad 20, Alih Bahasa Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1988),

[13] ibid

[14] Ibid.

[16] Lorens Bagus, “Edmund Husserl: Kembali pada Benda-benda Itu Sendiri”, Para Filosof Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 1992). H. 90

[17] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius,h. 143

[18] N. Drijarkara, SJ., Percikan Filsafat (Jakarta: PT Pembangunan, 1981) hh. 120-121.

[19] ibid

[20] Risieri Frondizi, Pengantar Filsafat Nilai, Cuk Ananta Wijaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, h. 109

[21] Ibid. h. 110

[22] Ibid. h. 111

[23] I.R. Poedjiwijatna, Pembimbing ke arah Alam Filsafat, jakarta; Rineka Cipta, Cet X, 1997. H. 109

PEMANTAPAN CALON-CALON PENULIS AMBISI

           Pelatihan kepenulisan untuk kedua kalinya diadakan oleh Ambisi (Aliansi Mahasiswa Bidik Misi) IAIN Sunan Ampel Surabaya. Setting yang diambil pun masih sama, yaitu Hotel Tanjung Plaza Tretes Pasuruan. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 15-16 Juni 2012 ini merupakan lanjutan dari pelatihan kepenulisan yang dilaksanakan di awal semester pertama sebagai bentuk aktualisasi pengembangan mahasiswa bidik misi.

                        Setelah 5 hari sebelumnya yakni 7-10 Juni 2012 Ambisi angkatan 2010 mengadakan kepelatihan interpreneurship sebagai pengembangan dan pemberian tambahan skill bagi mahasiswa bidikmisi agar berani dan mampu berwirausaha, kini Ambisi 2011 lebih kepada pengembangan kemampuan kepenulisan arek-arek Ambisi yang diharapkan akan mampu mengeksplorasikan potensi-potensi mahasiswa bidikmisi dalam berbagai macam tulisan terutama penulisan karya ilmiah dan ini juga merupakan rangsangan serta tindak lanjut bagi mahasiswa bidikmisi yang pernah mengadakan seminar Indonesia Menulis agar mahasiswa bidikmisi setelah ini mampu mengamalkan setiap materi dan teori yang telah di terima dengan karya tulisan-tulisan yang diharapkan akan muncul setelahnya.

                        Bukan saja karya ilmiah tetapi juga tulisan-tulisan lain seperti halnya opini, essay -yang juga di ajarkan pada pelatihan kali ini- cerpen, puisi atau apapun bentuk dari karya tulis mahasiswa bidikmisi. Ini seperti apa yang diharapkan Saudara Syamsul Arifin selaku ketua Ambisi 2011 saat menyampaikan harapanya seusai pelatihan, “Acara ini sebenarnya sangat bagus, tetapi saya harapkan acara ini tidak hanya berakhir disini saja, tetapi akan ada pendampingan dan kelanjutannya sekembali kita di kampus, ya mungkin bisa melalui pembuatan kelompok untuk membuat suatu penelitian yang didampingi dan dibina lebih lanjut oleh pihak kampus.”

                        Acara yang di adakan di Kota Pasuruan tepatnya Hotel Tanjung Tretes dan  dibuka langsung oleh Bapak Ikhwan Supriyono, S.Kom ini, selain mahasiswa Bidik Misi 2011, juga turut mendampingi Bapak Ikwan, Bu sulia dan pak Taufiq dari Kemahasiswaan, Drs. Agus Afandi, M.Fil I, Bapak A. Kemal Riza sebagai narasumber yang juga dosen di IAIN SA Surabaya juga ada salah satu dosen Pasca Sarjana IAIN yaitu Bapak Ahmad Zaini yang pula menjadi narasumber dan berbagi pengetahuan kepenulisan kepada mahasiswa bidikmisi.

                        Pada pelatihan kali ini, materi pelatihan dibagi menjadi 4 sesi, 2 pada jum’at malam dan 2 lagi pada esok hari. Jum’at malam pukul 19.30-21.00 sesi pertama dengan materi penentuan tema dan penyusunan karya tulis, 21.00-22.30 diisi materi penentuan referensi dan cara penulisan referensi. Sabtu 07.30-09.30 Bahasa dalam Karya Tulis Ilmiah, 09.00-11.00 penulisan essay.

                        Antusianme Ambisi sangat tinggi terhadap acara ini dan memiliki harapan tinggi agar acra kepenulisan ini tidak hanya berhenti dipelatihan ini tetapi benar-benar ada follow up kedepan sehingga setiap pelatihan yang dilakukan bukan hanya sebagai formalitas kegiatan pengembangan tetapi dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab pendampingan kedepan agar mahasiswa bidikmisi dapat memenuhi bidikan misinya memberikan perubahan bagi bangsa dan negara nantinya.

Wajah Pendidikan

Pelajar, Mahasiswa, dan kaum intelektual selama ini terbukti telah menjadi pilar perubahan di Negri kita tercinta. Mulai dari gerakan Boedi Oetomo, sumpah pemuda yang menyatukan semangat anak bangsa, aktifis mahasiswa yang menggulingkan soekarno, sampai penggerak dan pemrakarsa reformasi menjatuhkan rezim soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, semangat kaum muda yang membara serta idealisme menjadi pondasi kuat para pelajar yang telah memberikan perubahan bagi Negara Indonesia ini.

Peran penting lembaga pendidikan dalam menyiapkan pemuda-pemuda terpelajar tidak bisa diabaikan Terlebih lagi jika kita lihat setelah menangnya reformasi dan soeharto lengser, pemuda kita seakan kehilangan nyawanya sebagai pemuda yang sebenarnya dan tenggelam dalam euforia kebebasan yang mereka dapatkan. Jika kita lihat pelajar kita saat ini mulai dari tingkat SMP,SMA sampai Perguruan Tinggi, mereka terpenjara dalam sikap apatis, hedonis, pragmatis dan konsumtif akibat dari euforia kemenangan reformasi dan merasa cukup dengan kebanggaan mereka sebagai Iron stock, Agent of chance, Agen of control tetapi -seperti halnya oknum pemerintah kita – melupakan tugas dan tanggung jawab dari jabatan mereka tersebut.

Terbukti, pemuda kita ketika saat ini lebih asyik dengan aktifitas-aktifitas di jejaring sosial seperti facebook, twitter dan tidak peduli kepada perkembangan pemerintahan kita yang semakin korup dan mengabaikan kehidupan rakyat kecil. Bagaimana mau memperhatikan pemerintahan dan masa depan bangsa, kalau pelajaran dan pendidikan mereka saja tak dipedulikan dan lebih asyik beribadah update status di fb n twitter. Entah kenapa, pendidikan kita menjadi tak lebih menarik dari jejaring sosial. Karena memang tidak lepas juga dari peran Guru sebagai orang tua di sekolah.

Guru sebagai pendidik dan panutan disekolahpun mulai kehilangan kewibawaanya dengan berbagai kasus yang menimpa Pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sebagaimana banyaknya kasus pelecehan seksual oknum Guru. Seperti kasus seorang Guru BK yang melakukan pelecehan seksual kepada siswinya di salah satu SMA di Surabaya yang muncul di surat kabar, juga banyaknya Guru di bawah Kementrian Agama (Kemenag) yang ditugaskan mengajar di Madrasah tetapi belum bisa –atau kalaupun bias masih sangat rendah kemampuanya- baca tulis Al-Qur’an. Ini cukup menurunkan martabat seorang Guru dan menimbulkan keraguan kepada para orang tua dan siswa sendiri dalam proses belajar mengajar dan bahkan menimbulkan dampak badungnya siswa dan tidak disiplin karena melihat nilai buruk yang ditunjukkan oleh oknum pengajar.  Guru yang harusnya digugu dan ditiru malah memberikan potret yang buruk dan tidak bermoral.

Guru kencing berdiri murid kencing berlari, agaknya pepatah ini terlupakan oleh para Guru kita. Mereka -Guru- yang harusnya memberi tauladan dan jadi panutan bagi siswa kini mulai melupakan tanggung jawabnya dan memberi contoh prilaku yang buruk dan busuk. Jangan salahkan jika banyak beredar video pelajar melakukan hubungan seks wong Gurunya saja mengajarkan hal yang serupa.

Lalu bagaimana nasib masa depan Negara ini jika penerus bangsanya dirusak sendiri dengan pendidikan yang tak bermoral. Sistem pendidikan kita yang menjadi makanan sehari-hari dan jadi dunia bagi pelajar kita memang seharusnya di rekonstruksi, mulai dari pengajar, kurikulum dan sistem pendidikan sendiri. Pantas jika mahasiswa kita apatis karena sejak di bangku SMA saja mereka tidak pernah diajarkan untuk peduli pada masyarakat dan perkembangan bangsa kita dan hanya disibukkan dengan mengejar target angka-angka dan nilai standard kelulusan dan mengabaikan pendidikan karakter serta nilai dari belajar itu sendiri. Saya sendiri sebagai mahasiswa merasakan bagaimana semua pelajaran yang saya pelajari di SMA seakan menghilang bahkan memang sudah tidak bisa saya ingat dengan baik -entah memang saya yang kurang memperhatikan atau apa alasanya- karena kebanyakan Guru mengajar hanya sekadar karena kewajiban dan tugas pekerjaan mereka, bukan lagi karena memang ingin mencerdaskan siswanya.

Jika Guru dulu disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa maka sekarang nilai itu telah luntur karena banyak yang ingin menjadi guru hanya karena pekerjaan itu menghasilkan bagi kesejahteraan mereka. Dan ketika seorang Guru hanya mencari gaji, maka dia tidak akan peduli dengan kondisi siswanya karena dia hanya bekerja. Meskipun tidak semua Guru hanya pragmatis seperti itu.

Kesejahteraan Guru sebagai pengajar dan peracik generasi penerus memang dan harus diperhatikan, tetapi kinerja merekapun harus diawasi dan dikembangkan juga. Untuk kepentingan pengawasan itupun sudah ada Pengawas Sekolah yang mengawasi kinerja Guru, dari mulai mensurvei kegiatan belajar mengajar, mengoreksi berkas-berkas pembelajaran dari mulai Program tahunan sampai RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sebagai bentuk pengawasan dari kinerja guru sebelum mereka berhak mendapat biaya sertifikasi dari pemerintah sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan Guru.

Tetapi dalam praktiknya, banyak terjadi KKN di dalamnya, bagaimana bila seorang guru ingin berkasnya lolos seleksi sertifikasi pengawas maka harus memberikan uang sekian sekian sesuai yang ditentukan pengawas. Saya sempat miris ketika dengan mata kepala saya sendiri pernah menyaksikan praktik suap diinstansi pendidikan seperti ini. “Bagaimana mau bekerja dengan maksimal kalau yang dikejar hanya uang seperti ini, pantas kalau selama ini para pengajar seakan setengah hati dalam mengajar, ternyata sistemnya pun telah mewarisi budaya soeharto” kata hati saya waktu itu,ketika saya dibangku SMA.

Dari pihak instansi pendidikan sendiri baik negri maupun swasta, selama ini bertindak disiplin, tepat waktu, aktif dan tertib administrasi hanya ketika akan ada survei pengawas saja dan proses akreditasi. Selebihnya jika dihari biasa, semua seenaknya sendiri dalam mengajar. Ini lah gambaran mental pendidikan kita yang tidak punya kedisiplinan dan pandangan dimasa depan. Betapa mental korup begitu merata di negara kita ini, bukan hanya pemerintah pusat saja yang dapat korup tetapi seakan telah menjadi budaya.

Pemuda kita adalah penerus bangsa ini, jika pendidikan mereka saja sudah penuh dengan praktik tak bermoral bagaimana negara dan bangsa ini nantinya. Pelecehan seksual, pergaulan bebas, teknologi yang mematikan semangat pemuda, korupsi yang diajarkan dimana-mana adalah masalah kita bersama yang harus kita selesaikan bersama. Kesadaran moral, kesadaran hukum dan kekuatan mental sebagai Indonesia yang beradab, harus kita tumbuhkan dalam diri kita masing-masing. Tidak ada yang bisa merubah dirikita selain kita sendiri dan tidak ada yang dapat merubah masa depan selain kita sendiri.